Senin, 23 April 2012

Balas Dendam

19 April 2001, malam dimana pemberontakan elit politik dan keluarga bangsawan di eksekusi mati, di halaman istana ada pula yang di eksekusi mati di rumah mereka sendiri. tidak ada yang tersisa. Saat itu Feru berumur masih 13 tahun, ia di sembunyikan oleh pembantunya di sebuah tempat rahasia, di larang untuk bersuara sedikitpun, apapun yang terjadi.

ingatan feru masih jelas kejadian 9 tahun silam, keluarganya di bantai tidak satupun yang tersisa. kini feru menjadi seorang ahli pedang tak bertuan, dengan sepasang katana di pinggangnya dan baju perang prajurit, feru mengganti namanya dengan ferazh, dengan tehnik pedang tusuk taring, di ajarkan oleh seorang guru mantan pasukan khusus pada era itu.

yang memungutnya, kini setelah ferazh menguasai tehnik pedang tersebut, ia pun turun gunung, kini tehnologi barat sangat maju. di tengah perjalan ferazh melihat seorang kake kake yang hendak di bunuh, oleh kawanan perampok yang sedang merampas bawaannya, terlihat semua pelayannya di bunuh dengan keji. dengan santai ferazh berjalan. melewati tempat kejadian tersebut tanpa menghiraukan orang orang yang bersiteru. tiba tiba kake kake itu berlari dan menarik baju ferazh, meminta tolong, dan akan di bayar 1000 koin emas, dan makanan enak.

“betulkah kake akan memberikan ku uang dan makanan ?” ferazh senang

“betul asal kau selamatkan kake dari penjahat ini” kake itu gemetar

“baik lah dengan senang hati” ferazh tersenyum

ferazh pun menyuruh kake itu menjauh, penjahat itu menghujat dengan nada nada yang tidak enak untuk di katakan. ferazh mencabut pedangnya, dengan cepat menebas 3 orang yang di depannya , darah segar menyembur keluar.

“semoga kalian masuk surga” feru berdoa

“hei kau sok jagoan!!!!!!!” teriak dari seorang yang duduk di bawah pohon

pakaianya dan pedang yang bagus, dan terlihat dia adalah pemimpinnya

“maaf tuan memanggil saya ?” ferazh dengan wajah tersenyum

“kau telah membunuh 3 orang anak buah ku dan kau masih santai saja bersuara, di lihat dari kemampuan mu akulah tandingan mu” ketua preman itu dengan nada sombong

“saya mohon tuan lebih baik meninggalkan tempat ini dari pada nasip tuan sama dengan 3 anak buah tuan dan bertobatlah selagi masih bisa” feraz dengan nada lembut

“ow kau menggurui ku ya” ketua preman itu berdiri

“maaf tuan saya tidak bermaksud, saya hanya mengingatkan” ferazh masih saja tersenyum sambil menggaruk kepalanya

“sepertinya kau akan aku antar ke akhirat” pemimpin preman itu tertawa

“baik kita lihat siapa yang akan ke akhirat duluan saya atau anda?” ferazh tersenyum kembali

ketua preman tersebut mulai bersiap, ferazh menyadari dari kuda kuda yang yang tidak teratur dengan tumpuan tumit belakang itu adalah tehnik pedang klasik yang beranama tehnik pedang angin, dengan kecepatan jorongan yang kuat dan kesetebilan tubuh yang rendah membuat gerakan sulit di tebak, ferazh pun menggunakan tehniknya pedang yang di ajari oleh gurunya di gunung, dengan posisi kuda kuda yang umum di gunakan dan tubuh agak di rendahkan, dengan tangan menggenggam ujung katana, yang sejajar dengan baju, di mana badan katana di topang dengan tangan kiri dengan posisi lurus dengan baju, wajah di dekatkan dengan katana seperti orang membidik menggunakan senapan. kake itu melihat gerakan dari ferazh, tehnik clasik, yang pernah di gunakan oleh ahlipedang yang kini menghilang, bagai mana bisa tehnik itu yang sudah lama menghilang kini ada lagi pada seorang anak  muda.

keduanya saling berhadapan dan mencari saat yang tepat untuk menyerang, angin dingin berhembus bercampur amis darah dari orang orang yang mati. terlihat dari struktur katana milik ferazh sangat berbeda itu katana asli yang tebal dan kuat tapi ringan. dengan gelombang yang tidak rata tapi saat terkena sinar matahari pedang itu berkilauan seperti sisik naga. pemimpin prompak tersebut memulai langkahnya dan menyerang duluan, ferazh sudah membaca arah serangannya itu.

dan ferazh pun langsung menyerang, dan dengan sekejap, katana milik ferazh tepat menusuk jantung pemimpin perompak itu, darah segar pun keluar dari tubuh pemimpin perompak tersebut, ferazh memutar pedangnya dan langsung mencabutnya agar bekas luka tidak tertutup dan mengalami pendarahan, dan pemimpin perompak tersebut terjatuh dengan bergelimang darah.

bersambung…………..

READ MORE - Balas Dendam

19 April 2001, malam dimana pemberontakan elit politik dan keluarga bangsawan di eksekusi mati, di halaman istana ada pula yang di eksekusi mati di rumah mereka sendiri. tidak ada yang tersisa. Saat itu Feru berumur masih 13 tahun, ia di sembunyikan oleh pembantunya di sebuah tempat rahasia, di larang untuk bersuara sedikitpun, apapun yang terjadi.

ingatan feru masih jelas kejadian 9 tahun silam, keluarganya di bantai tidak satupun yang tersisa. kini feru menjadi seorang ahli pedang tak bertuan, dengan sepasang katana di pinggangnya dan baju perang prajurit, feru mengganti namanya dengan ferazh, dengan tehnik pedang tusuk taring, di ajarkan oleh seorang guru mantan pasukan khusus pada era itu.

yang memungutnya, kini setelah ferazh menguasai tehnik pedang tersebut, ia pun turun gunung, kini tehnologi barat sangat maju. di tengah perjalan ferazh melihat seorang kake kake yang hendak di bunuh, oleh kawanan perampok yang sedang merampas bawaannya, terlihat semua pelayannya di bunuh dengan keji. dengan santai ferazh berjalan. melewati tempat kejadian tersebut tanpa menghiraukan orang orang yang bersiteru. tiba tiba kake kake itu berlari dan menarik baju ferazh, meminta tolong, dan akan di bayar 1000 koin emas, dan makanan enak.

“betulkah kake akan memberikan ku uang dan makanan ?” ferazh senang

“betul asal kau selamatkan kake dari penjahat ini” kake itu gemetar

“baik lah dengan senang hati” ferazh tersenyum

ferazh pun menyuruh kake itu menjauh, penjahat itu menghujat dengan nada nada yang tidak enak untuk di katakan. ferazh mencabut pedangnya, dengan cepat menebas 3 orang yang di depannya , darah segar menyembur keluar.

“semoga kalian masuk surga” feru berdoa

“hei kau sok jagoan!!!!!!!” teriak dari seorang yang duduk di bawah pohon

pakaianya dan pedang yang bagus, dan terlihat dia adalah pemimpinnya

“maaf tuan memanggil saya ?” ferazh dengan wajah tersenyum

“kau telah membunuh 3 orang anak buah ku dan kau masih santai saja bersuara, di lihat dari kemampuan mu akulah tandingan mu” ketua preman itu dengan nada sombong

“saya mohon tuan lebih baik meninggalkan tempat ini dari pada nasip tuan sama dengan 3 anak buah tuan dan bertobatlah selagi masih bisa” feraz dengan nada lembut

“ow kau menggurui ku ya” ketua preman itu berdiri

“maaf tuan saya tidak bermaksud, saya hanya mengingatkan” ferazh masih saja tersenyum sambil menggaruk kepalanya

“sepertinya kau akan aku antar ke akhirat” pemimpin preman itu tertawa

“baik kita lihat siapa yang akan ke akhirat duluan saya atau anda?” ferazh tersenyum kembali

ketua preman tersebut mulai bersiap, ferazh menyadari dari kuda kuda yang yang tidak teratur dengan tumpuan tumit belakang itu adalah tehnik pedang klasik yang beranama tehnik pedang angin, dengan kecepatan jorongan yang kuat dan kesetebilan tubuh yang rendah membuat gerakan sulit di tebak, ferazh pun menggunakan tehniknya pedang yang di ajari oleh gurunya di gunung, dengan posisi kuda kuda yang umum di gunakan dan tubuh agak di rendahkan, dengan tangan menggenggam ujung katana, yang sejajar dengan baju, di mana badan katana di topang dengan tangan kiri dengan posisi lurus dengan baju, wajah di dekatkan dengan katana seperti orang membidik menggunakan senapan. kake itu melihat gerakan dari ferazh, tehnik clasik, yang pernah di gunakan oleh ahlipedang yang kini menghilang, bagai mana bisa tehnik itu yang sudah lama menghilang kini ada lagi pada seorang anak  muda.

keduanya saling berhadapan dan mencari saat yang tepat untuk menyerang, angin dingin berhembus bercampur amis darah dari orang orang yang mati. terlihat dari struktur katana milik ferazh sangat berbeda itu katana asli yang tebal dan kuat tapi ringan. dengan gelombang yang tidak rata tapi saat terkena sinar matahari pedang itu berkilauan seperti sisik naga. pemimpin prompak tersebut memulai langkahnya dan menyerang duluan, ferazh sudah membaca arah serangannya itu.

dan ferazh pun langsung menyerang, dan dengan sekejap, katana milik ferazh tepat menusuk jantung pemimpin perompak itu, darah segar pun keluar dari tubuh pemimpin perompak tersebut, ferazh memutar pedangnya dan langsung mencabutnya agar bekas luka tidak tertutup dan mengalami pendarahan, dan pemimpin perompak tersebut terjatuh dengan bergelimang darah.

bersambung…………..

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih Telah Membaca Semua karangan Ku