Kamis, 01 November 2012

Hope ?, Part 2 Pembantaian

Sore hari, vannya seperti biasa menuju makamnya, hujan pun turun, di depan makam wanita yang ia cintai dulu vannya duduk.
"aku telah melaksanakan misi dimana aku membunuh orang lagi, tangan ku penuh dengan darah orang orang yang tidak berdosa, aku benci memiliki tubuh seperti ini, tidak ada racun yang dapat membunuh ku, berkali kali aku mencoba mengakhiri yawaku, tapi mage spell itu selalu saja menyembuhkan ku, apakah ini anugrah atau kutukan, aku selalu ingin mati dan cepat cepat menyusul mu ke akhirat, kau tau, senyum mu, canda tawa mu selalu membuat ku tenang, kau satu satu ya yang mengerti akan isi hati ku, emosi ku, dan semuanya tentang diri ku, aku sangat ingin bertemu dengan mu, andaikan kejadian itu aq selalu bersamamu, kau tidak akan meninggalkan ku, hanya maaf dan maaf yang aku ucapkan" vannya sambil meneteskan air mata.

vannya pun berdiri, dan memberikan bunga di makam lia, vannya pun berjalan meninggalkan makam lia.
"mungkin saat nya aku pergi meninggalkan semua ini dan berhenti dari akademi" ujar vannya dalam hati ya

vannya pun pergi ke ruangan kepala akademi, di sana seorang di balik meja besar, yang wajahnya selalu di tutupi oleh gelapnya ruangannya, yang terlihat hanyalah sebagian badannya dan meja kerjanya yang di terangi oleh lampu yang redup.
"ada apa vannya, hingga kau datang ke ruangan ku" ujar kepala akademi
"aku memutuskan untuk berehnti dari akademi" vannya dengan nada tegas
"tunggu dulu, kau adalah siswa berbakat, kemampuan mu di atas rata rata, kau juga memiliki respon yang baik, kenapa kau hendak berhenti?, bukankah kau tidak memiliki tempat yang akan kau tuju?, dan lagi pula jangan sia siakan bakat mu" kepala akademi dengan serius
"ya aku sadar itu, aku tau itu, tapi Sir, saya sudah memikirkan dengan matang, saya akan berenti" vannya tersenyum
"baiklah, jika itu ke inginan mu, kamu tau kan jika berenti, kau harus serahkan atribut mu, dan jam fuhler itu" kepala ademi dengan nada santai
"ya saya mengerti Sir" vannya memnyerahkan jam fuhler dan atribut akademi

berita itu pun cepat tersebar, vanny yang mendengar kabar tersebut langsung mencari vannya, tapi vanny tidak menemukan vannya. vannya pun kekamarnya, dan berkemas, vannya berjalan keluar dari area akademi, meninggalkan semuanya.

beberapa tahun kemudian, akademi alexandria tempat vannya dulu menimba ilmu, atas raja stevan Alexsandros III, memberikan perintah semuanya di tarik ke militer. vannya mengembara ke desa satu ke desa lainnya, ke kota satu dan ke kota lainya, hanya ke hancuran dan penderitaan serta keseidahan yang ia lihat. vannya pun duduk di sebuah rumah peristirahatan sambil meminum teh.

tidak di sangka dan waktu yang tidak tepat, seseorang anak kecil, menghampirinya, karena melihat pedang yang vannya bawa, anak kecil tu memohon pertolongan bahwa kakanya telah di tawan oleh perompak. anak kecil itu menangis tersendu sendu, vannya memperhatikannya, dan berdiri. vannya meminta anak tersebut menunjukan tempat kakanya di tawan. 

terlihat di sana tempat perdagangan manusia, sungguh tidak manusiawi, kota ini di pimpin oleh manusia yang sangat menjijikan.

"hei anak kecil mana kaka mu ?" vannya menoleh ke anak kecil tersebut
"itu di dalam yang menggunakan baju berwarna putih" anak itu menunjuk ke arah dalam sebuah penjara dari kayu
"begitu ya, sekarang qm menjauh lah"perintah vannya

vannya berjalan, orang orang memperhatikan vannya dan mereka pun minggir, dan berlarian, vannya membuka jubahnya dan terlihat baju tempurnya, dan 2 pedang yang berada di pinggang kanannya.
"lepaskan semua wanita itu atau nasip kalian aku antar ke akhirat" ujar vannya dengan nada datar

tiba tiba semua orang tertawa, dan mereka menyalakan bell darurat, semua tentara pun bersiaga, dari petarung hingga penyihir dan penyembuh. orang orang yang ada di kota tersebut menggil vannya dengan sebutan gila, dan akan mati konyol, tapi banyak orang yang melihat termasuk pemilik kedai teh.

vannya mengerti mereka tidak akan melepaskan semua tahanan yang akan di jual tersebut, vannya pun mencabut pedangnya, dan vannya mendapatkan serangan ke jut, sebuah mage spell fire ball ke arah vannya dengan reflek yang tinggi vannya dapat menghindarinya dan dengan cepat vannya menebas, tentara yang membuat barisan di depan, vannya di kelilingi para tentara serangan jarak dekat, di dukung oleh para healer dan magecian, vannya memperhatikan gerak gerik dari para tentara tesrebut. dan vannya pun melompat ke udara, menuju para healer, dan menebas mereka, garis belakang di trobos vannya membuat susunan tentara menjadi kacau balau, suara teriakan ke sakitan pun terdengar dengan jelas.

tentara pemanah pun menyusun sebanyak 3 lapis, melihat kecepatan vannya yang sangat tidak masuk akal terlalu cepat untuk seorang manusia yang tidak menggunakan mage spell. orang orang yang melihat pertarungan vannya tercengang, sayatan dari katana milik vanya sangatlah kuat dan membelah musuhnya. 

vannya masuk ke dalam rumah tersebut, dan di dalamnya vannya mengobrak abrik...

bersambung.................

READ MORE - Hope ?, Part 2 Pembantaian
Sore hari, vannya seperti biasa menuju makamnya, hujan pun turun, di depan makam wanita yang ia cintai dulu vannya duduk.
"aku telah melaksanakan misi dimana aku membunuh orang lagi, tangan ku penuh dengan darah orang orang yang tidak berdosa, aku benci memiliki tubuh seperti ini, tidak ada racun yang dapat membunuh ku, berkali kali aku mencoba mengakhiri yawaku, tapi mage spell itu selalu saja menyembuhkan ku, apakah ini anugrah atau kutukan, aku selalu ingin mati dan cepat cepat menyusul mu ke akhirat, kau tau, senyum mu, canda tawa mu selalu membuat ku tenang, kau satu satu ya yang mengerti akan isi hati ku, emosi ku, dan semuanya tentang diri ku, aku sangat ingin bertemu dengan mu, andaikan kejadian itu aq selalu bersamamu, kau tidak akan meninggalkan ku, hanya maaf dan maaf yang aku ucapkan" vannya sambil meneteskan air mata.

vannya pun berdiri, dan memberikan bunga di makam lia, vannya pun berjalan meninggalkan makam lia.
"mungkin saat nya aku pergi meninggalkan semua ini dan berhenti dari akademi" ujar vannya dalam hati ya

vannya pun pergi ke ruangan kepala akademi, di sana seorang di balik meja besar, yang wajahnya selalu di tutupi oleh gelapnya ruangannya, yang terlihat hanyalah sebagian badannya dan meja kerjanya yang di terangi oleh lampu yang redup.
"ada apa vannya, hingga kau datang ke ruangan ku" ujar kepala akademi
"aku memutuskan untuk berehnti dari akademi" vannya dengan nada tegas
"tunggu dulu, kau adalah siswa berbakat, kemampuan mu di atas rata rata, kau juga memiliki respon yang baik, kenapa kau hendak berhenti?, bukankah kau tidak memiliki tempat yang akan kau tuju?, dan lagi pula jangan sia siakan bakat mu" kepala akademi dengan serius
"ya aku sadar itu, aku tau itu, tapi Sir, saya sudah memikirkan dengan matang, saya akan berenti" vannya tersenyum
"baiklah, jika itu ke inginan mu, kamu tau kan jika berenti, kau harus serahkan atribut mu, dan jam fuhler itu" kepala ademi dengan nada santai
"ya saya mengerti Sir" vannya memnyerahkan jam fuhler dan atribut akademi

berita itu pun cepat tersebar, vanny yang mendengar kabar tersebut langsung mencari vannya, tapi vanny tidak menemukan vannya. vannya pun kekamarnya, dan berkemas, vannya berjalan keluar dari area akademi, meninggalkan semuanya.

beberapa tahun kemudian, akademi alexandria tempat vannya dulu menimba ilmu, atas raja stevan Alexsandros III, memberikan perintah semuanya di tarik ke militer. vannya mengembara ke desa satu ke desa lainnya, ke kota satu dan ke kota lainya, hanya ke hancuran dan penderitaan serta keseidahan yang ia lihat. vannya pun duduk di sebuah rumah peristirahatan sambil meminum teh.

tidak di sangka dan waktu yang tidak tepat, seseorang anak kecil, menghampirinya, karena melihat pedang yang vannya bawa, anak kecil tu memohon pertolongan bahwa kakanya telah di tawan oleh perompak. anak kecil itu menangis tersendu sendu, vannya memperhatikannya, dan berdiri. vannya meminta anak tersebut menunjukan tempat kakanya di tawan. 

terlihat di sana tempat perdagangan manusia, sungguh tidak manusiawi, kota ini di pimpin oleh manusia yang sangat menjijikan.

"hei anak kecil mana kaka mu ?" vannya menoleh ke anak kecil tersebut
"itu di dalam yang menggunakan baju berwarna putih" anak itu menunjuk ke arah dalam sebuah penjara dari kayu
"begitu ya, sekarang qm menjauh lah"perintah vannya

vannya berjalan, orang orang memperhatikan vannya dan mereka pun minggir, dan berlarian, vannya membuka jubahnya dan terlihat baju tempurnya, dan 2 pedang yang berada di pinggang kanannya.
"lepaskan semua wanita itu atau nasip kalian aku antar ke akhirat" ujar vannya dengan nada datar

tiba tiba semua orang tertawa, dan mereka menyalakan bell darurat, semua tentara pun bersiaga, dari petarung hingga penyihir dan penyembuh. orang orang yang ada di kota tersebut menggil vannya dengan sebutan gila, dan akan mati konyol, tapi banyak orang yang melihat termasuk pemilik kedai teh.

vannya mengerti mereka tidak akan melepaskan semua tahanan yang akan di jual tersebut, vannya pun mencabut pedangnya, dan vannya mendapatkan serangan ke jut, sebuah mage spell fire ball ke arah vannya dengan reflek yang tinggi vannya dapat menghindarinya dan dengan cepat vannya menebas, tentara yang membuat barisan di depan, vannya di kelilingi para tentara serangan jarak dekat, di dukung oleh para healer dan magecian, vannya memperhatikan gerak gerik dari para tentara tesrebut. dan vannya pun melompat ke udara, menuju para healer, dan menebas mereka, garis belakang di trobos vannya membuat susunan tentara menjadi kacau balau, suara teriakan ke sakitan pun terdengar dengan jelas.

tentara pemanah pun menyusun sebanyak 3 lapis, melihat kecepatan vannya yang sangat tidak masuk akal terlalu cepat untuk seorang manusia yang tidak menggunakan mage spell. orang orang yang melihat pertarungan vannya tercengang, sayatan dari katana milik vanya sangatlah kuat dan membelah musuhnya. 

vannya masuk ke dalam rumah tersebut, dan di dalamnya vannya mengobrak abrik...

bersambung.................

Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih Telah Membaca Semua karangan Ku