Rabu, 26 September 2012

Manusia dan Athan

400 ratus tahun yang lalu telah terjadi sebuah perperanga antara bangsa manusia dan bangsa Athan, Bangsa athan adalah bangsa para dewa yang turun ke dunia untuk mencegah manusia untuk menjadi dewa. dalam perperangan itu bangsa manusia menang melawang bangsa athan, tidak ada yang tersisa dari bangsa athan, dan bangsa athan telah lenyap.

kini banyak manusia yang mengincar rahasia bangsa athan, yang konon jika mengetahuinya mereka bisa pergi ke tempat para dewa yang bersemayam, banya manusia yang merasa tidak puas dan haus akan kekuasaan.

tapi sebenarnya bangsa athan tidak musnah, tapi mereka menjauh dan tinggal di pegunungan bersalju, mereka tinggal di sebuah gunung yang di anggap gunung pembunuh karena dingin luarbiasa, disanlah mereka bersembunyi. mereka telah ke hilangan semangat mereka dalam bertempur dan mencegah manusia yang serakah. tetua desa athan pun, merubah pandangan agar rakyatnya bisa hidup dengan tenang dan makmur. 

ferazh adalah seorang bangsa athan dari keluarga Rayan, seorang rayan, adalah orang orang yang di latih berdasarkan garis keturunan dimana mereka di latih untuk menyelinap, membunuh tanpa meninggalkan jejak. dan di sebuah kota bernama tanah liar, ferazh hidup disana menjadi seorang gelandangan. belakangan ini banyak orang tau bahwa bangsa athan adalah bangsa yang bengis ia terus di pukuli oleh orang orang di sana. di hina dan di caci maki.

bangsa athan seperti aib bagi manusia. saat itu ferazh mencuri sebuah roti, dan di teriaki maling oleh pemilik toko, ferazh terus berlari hingga ia kehilangan perhatiannya dan menabrak sebuah gerobak hingga ia terjatuh. ia pun di bawa ke sela rumah. roti yang ia simpan di balik bajunya pun di ambil dan di injak oleh orang orang yang menolongnya. kejadian tersebut menarik seorang wanita dari keluarga, Icense, keluarga icense di anggap keluarga yang memiliki komunikasi langsung terhadap dewa dan dewi.

wanita itu bernama, Serenite, serenite terbang ke atas atab tanpa di sadari oleh orang orang di sekitarnya dan memperhatikan perlakuan orang orang terhadap maling tersebut. setelah mereka memukuli dengan puas, ferazh pun bangun dan mengambil roti yang telah di injak injak tersebut. setelah selesai mengumpulkan roti dan serpihan yang kotor tersebut, ferazh pun berjalan, keluar dari gang yang kotor tesrebut, setiap dia melangkahkan kakinya. rasa sakit yang luarbiasa dia rasakan, bukan rasa sakit yang di rasakan di tubuhnya, melainkan rasa sakit caci makian dari orang orang yang ia lewati.

serenite mengikuti ferazh dari jauh. ferazh menundukan kepalanya, dan tersenyum. setelah di luar kota ferazh menuju ke hutan. serenite terus mengikuti ferazh secara diam diam. di tengah hutan dekat danau terlihat sebuah rumah dan ada seorang perempuan disana duduk. dan menyambut ferazh dengan hangat. 

"sayang selamat datang" ujar wanita itu
"iya terimakasih, bagai mana ke adaan qm ?" ferazh dengan penuh khawatir
"sekarang kaki q sudah agak baikan, tidak sakit lagi, lia sangat senang memiliki suami seperti kamu" lia tersenyum
"dasar kamu ini, bagai mana penglihatan qm, apa masih rabun ?" ujar ferahz memperhatikan mata lia
"iya tidak begitu jelas, tapi sudah agak mendingan" lia tersenyum

ferazh pun mengendong lia, dan meletakannya di sebuah bekas potongan kayu, ferazh pun mengeluarkan dari dalam baju ya, sayuran yang sudah layu, dan beras bercampur pasir, roti yang kotor, ferazh membersihkan sayur tersebut yang ia pungut dari yang orang buang dan beras yang ia bersihkan dari pasir. serenite melihat dari kejauhan di atas pohon, dengan espernya serenite mencuri dengar akan percakapan ferazh dan lia. ferazh memasak untuk lia, lia pun tersenyum.

kesehatan lia terus menurun setiap harinya. ferazh mencari obat obatan herbal di hutan, untuk menyembuhkan penyakit lia, entah apa yang lia derita, setiap lia batuk, batuknya pun mengeluarkan darah beku. hingga suatu saat penyakit lia makin parah. hujan pun turun dengan derasnya. 

ferazh menggendong lia menuju ke kota, di tengah hujan deras, melewati hutan, ferazh terjatuh saat menggendong lia, karena kakinya tersangkut akar pohon, ferazh berdiri lagi, ferazh terus menggendong lia dan berlari.

"lia sabar ya sayang sabar sebentar lagi kita sampai" ferazh terus berlari sambil menangis, air mata yang tercampur dengan air hujan
"kita pulang aja gak usah ke kota" ujar lia sambil batuk dan mengeluarkan darah
"tidak pasti di kota ada yang menolong kita" ujar ferazh

tidak lama kemudia ferazh tiba di kota, dan menuju sebuah kedai tabib, baru saja hendak masuk ferazh pun di jorong hingga terjatuh, lia terguling di tanah, ferazh pun langsung menghampiri istrinya lia, dan memeluknya, lalu menggendongnya lagi, kata kata yang pedas dari orang orang menolaknya memperlakukan mereka seperti anjing kampung.

di kota tersebut tidak ada yang mau menerima mereka, lia menangis melihat suaminya yang begitu sangat keras menolongnya. kaki ferazh yang sudah luka karena lecet berjalan tanpa alas kaki. tiba tiba lia meminta di peluk, dan berhenti di bawah pohon besar, di tengah kota.

"suami ku, aku lia dari keluarga lupin bangsa human, sangat senang memiliki suami seperti dirimu dari bangsa rayan,aku telah memberikan semua kemampuan dan rahasia lupin terhadap diri mu, dan saat ini berhentilah mencari pertolongan, karena lia hari ini hanya ingin qm peluk" lia sambil batuk

"tapi. pasti ada yang menolong kita" ujar ferazh

"jangan bergerak, aku ingin di peluk, aq ingat saat dulu pertama kali kita bertemu, kamu adalah laki laki yang sangat bodoh, dan mengagumkan, hingga sampai saat ini aq sangat mencintai mu, kamu tidak pernah mengeluh akan diri mu sendiri dan tentang diri ku, kamu selalu membuat q tersenyum dan aku sangat bahagia. walau sekarang aku sakit sakitan, dan kamu terus merawat ku hingga kamu menjual senajata milik mu sebagai seorang rayan, bukankah senjata sabit itu adalah momento milikmu sebagai seorang rayan. tapi demi aku kamu menanggalkan  harga diri mu" lia meneteskan air mata

"sudah jangan banyak bicara lagi, apapun asal qm senang aq rela lakukan apa saja, karena aku sangat mencintai kamu" ujar ferazh

"ya aku pun mencintai kamu, sampai kapan pun aku mencintai mu" lia memeluk dengan erat

tiba tiba beberapa saat kemudian, pelukan lia melemah. dan mengendong lia, ferazh terus tersenyum, saat itu serenite hendak menolong karena mendengar cerita seorang rayan meminta tolong, d sebuah persimpangan tengah tengah kota, serenite melihat, ferazh yang menggendong, lia dimana tubuh lia sangat jelas sekali tidak beryawa, dan serenite melihat tanda di pergelangan tangan istri ferazh tanda seorang lupin. serenite terdiam melihat ferazh lewat, terlihat dari raut wajah ferazh, kesedihan yang tidak terkira. serenite mengikuti ferazh dari jauh. ferazh pun menuju rumahnya. ferazh pun menuju danau yang airnya sangat jernih, membersihkan zenajah istrinya.

"keluarlah jangan bersembunyi aq tau kau sedang mengamati ku" ujar ferazh
serenite terkejut, dan ia pun keluar dari persembunyiannya
"maaf, maafkan aku" ujar serenite
"sudahlah tidak apa apa" ujar ferazh dengan nada liris

setelah selesai membersihkan tubuh istrinya, ferazh pun membawa zenajah istrinya ke dalam rumah, dan meletakan tubuh lia di atas kasur yang lembut terbut dari kulit domba yang di jahit dengan rapi. ferazh pun mebuka kotak kayu, dan di sana ada baju jirah seorang lupin. ferazh mengenakan baju jirah tersebut ke zenajah lia. setelah mengenakan baju jirah tersebut, ferazh mengikat rambut istrinya, dan memberikan pewarna bibir, dan terlihat sangat cantik sekali, sebuah senjata lupin yang mengkilap, dengan ukiran naga, serenite terkejut bukan main, dari senjata itu adalah bahwa lia seorang lupin berpangkatkan jendral wanita, yang di anugrahi lambang giok naga hijau.

ferazh pun pergi ke belakang rumah, serenite mengikuti ferazh, d sana ada sebuah taman bunga, ya itu bunga sedap malam yang segar di basahi oleh air hujan. ferazh meletakan bunga bunga tersebut di samping jenajah istrinya.

"tunggu aku di sana, jangan lelah ya, maafin semua kebodohan ku. suatu saat nanti aku akan menyusul mu" ujar ferazh tersenyum

serenite terdiam menahan air mata, mana mungkin seorang athan bisa bersama dengan seorang human. dan bangsa athan ini sangat lembut dan penyayang, berbeda dengan cerita cerita turun temurun yang serenite lihat.

stelah selesai, ferazh menuju sebuah kamar yang tidak jauh jaraknya dari zenajah istrinya, 15 menit kemudia ferazh pun keluar, serenite melihat ferazh menggunakan baju jirah seorang Rayan, ya itu Dragon Armor, diperkuat dengan 4 batu element.
tapi ia serenite tidak melihat senjata sabit ya

bersambung.........................

 
READ MORE - Manusia dan Athan
400 ratus tahun yang lalu telah terjadi sebuah perperanga antara bangsa manusia dan bangsa Athan, Bangsa athan adalah bangsa para dewa yang turun ke dunia untuk mencegah manusia untuk menjadi dewa. dalam perperangan itu bangsa manusia menang melawang bangsa athan, tidak ada yang tersisa dari bangsa athan, dan bangsa athan telah lenyap.

kini banyak manusia yang mengincar rahasia bangsa athan, yang konon jika mengetahuinya mereka bisa pergi ke tempat para dewa yang bersemayam, banya manusia yang merasa tidak puas dan haus akan kekuasaan.

tapi sebenarnya bangsa athan tidak musnah, tapi mereka menjauh dan tinggal di pegunungan bersalju, mereka tinggal di sebuah gunung yang di anggap gunung pembunuh karena dingin luarbiasa, disanlah mereka bersembunyi. mereka telah ke hilangan semangat mereka dalam bertempur dan mencegah manusia yang serakah. tetua desa athan pun, merubah pandangan agar rakyatnya bisa hidup dengan tenang dan makmur. 

ferazh adalah seorang bangsa athan dari keluarga Rayan, seorang rayan, adalah orang orang yang di latih berdasarkan garis keturunan dimana mereka di latih untuk menyelinap, membunuh tanpa meninggalkan jejak. dan di sebuah kota bernama tanah liar, ferazh hidup disana menjadi seorang gelandangan. belakangan ini banyak orang tau bahwa bangsa athan adalah bangsa yang bengis ia terus di pukuli oleh orang orang di sana. di hina dan di caci maki.

bangsa athan seperti aib bagi manusia. saat itu ferazh mencuri sebuah roti, dan di teriaki maling oleh pemilik toko, ferazh terus berlari hingga ia kehilangan perhatiannya dan menabrak sebuah gerobak hingga ia terjatuh. ia pun di bawa ke sela rumah. roti yang ia simpan di balik bajunya pun di ambil dan di injak oleh orang orang yang menolongnya. kejadian tersebut menarik seorang wanita dari keluarga, Icense, keluarga icense di anggap keluarga yang memiliki komunikasi langsung terhadap dewa dan dewi.

wanita itu bernama, Serenite, serenite terbang ke atas atab tanpa di sadari oleh orang orang di sekitarnya dan memperhatikan perlakuan orang orang terhadap maling tersebut. setelah mereka memukuli dengan puas, ferazh pun bangun dan mengambil roti yang telah di injak injak tersebut. setelah selesai mengumpulkan roti dan serpihan yang kotor tersebut, ferazh pun berjalan, keluar dari gang yang kotor tesrebut, setiap dia melangkahkan kakinya. rasa sakit yang luarbiasa dia rasakan, bukan rasa sakit yang di rasakan di tubuhnya, melainkan rasa sakit caci makian dari orang orang yang ia lewati.

serenite mengikuti ferazh dari jauh. ferazh menundukan kepalanya, dan tersenyum. setelah di luar kota ferazh menuju ke hutan. serenite terus mengikuti ferazh secara diam diam. di tengah hutan dekat danau terlihat sebuah rumah dan ada seorang perempuan disana duduk. dan menyambut ferazh dengan hangat. 

"sayang selamat datang" ujar wanita itu
"iya terimakasih, bagai mana ke adaan qm ?" ferazh dengan penuh khawatir
"sekarang kaki q sudah agak baikan, tidak sakit lagi, lia sangat senang memiliki suami seperti kamu" lia tersenyum
"dasar kamu ini, bagai mana penglihatan qm, apa masih rabun ?" ujar ferahz memperhatikan mata lia
"iya tidak begitu jelas, tapi sudah agak mendingan" lia tersenyum

ferazh pun mengendong lia, dan meletakannya di sebuah bekas potongan kayu, ferazh pun mengeluarkan dari dalam baju ya, sayuran yang sudah layu, dan beras bercampur pasir, roti yang kotor, ferazh membersihkan sayur tersebut yang ia pungut dari yang orang buang dan beras yang ia bersihkan dari pasir. serenite melihat dari kejauhan di atas pohon, dengan espernya serenite mencuri dengar akan percakapan ferazh dan lia. ferazh memasak untuk lia, lia pun tersenyum.

kesehatan lia terus menurun setiap harinya. ferazh mencari obat obatan herbal di hutan, untuk menyembuhkan penyakit lia, entah apa yang lia derita, setiap lia batuk, batuknya pun mengeluarkan darah beku. hingga suatu saat penyakit lia makin parah. hujan pun turun dengan derasnya. 

ferazh menggendong lia menuju ke kota, di tengah hujan deras, melewati hutan, ferazh terjatuh saat menggendong lia, karena kakinya tersangkut akar pohon, ferazh berdiri lagi, ferazh terus menggendong lia dan berlari.

"lia sabar ya sayang sabar sebentar lagi kita sampai" ferazh terus berlari sambil menangis, air mata yang tercampur dengan air hujan
"kita pulang aja gak usah ke kota" ujar lia sambil batuk dan mengeluarkan darah
"tidak pasti di kota ada yang menolong kita" ujar ferazh

tidak lama kemudia ferazh tiba di kota, dan menuju sebuah kedai tabib, baru saja hendak masuk ferazh pun di jorong hingga terjatuh, lia terguling di tanah, ferazh pun langsung menghampiri istrinya lia, dan memeluknya, lalu menggendongnya lagi, kata kata yang pedas dari orang orang menolaknya memperlakukan mereka seperti anjing kampung.

di kota tersebut tidak ada yang mau menerima mereka, lia menangis melihat suaminya yang begitu sangat keras menolongnya. kaki ferazh yang sudah luka karena lecet berjalan tanpa alas kaki. tiba tiba lia meminta di peluk, dan berhenti di bawah pohon besar, di tengah kota.

"suami ku, aku lia dari keluarga lupin bangsa human, sangat senang memiliki suami seperti dirimu dari bangsa rayan,aku telah memberikan semua kemampuan dan rahasia lupin terhadap diri mu, dan saat ini berhentilah mencari pertolongan, karena lia hari ini hanya ingin qm peluk" lia sambil batuk

"tapi. pasti ada yang menolong kita" ujar ferazh

"jangan bergerak, aku ingin di peluk, aq ingat saat dulu pertama kali kita bertemu, kamu adalah laki laki yang sangat bodoh, dan mengagumkan, hingga sampai saat ini aq sangat mencintai mu, kamu tidak pernah mengeluh akan diri mu sendiri dan tentang diri ku, kamu selalu membuat q tersenyum dan aku sangat bahagia. walau sekarang aku sakit sakitan, dan kamu terus merawat ku hingga kamu menjual senajata milik mu sebagai seorang rayan, bukankah senjata sabit itu adalah momento milikmu sebagai seorang rayan. tapi demi aku kamu menanggalkan  harga diri mu" lia meneteskan air mata

"sudah jangan banyak bicara lagi, apapun asal qm senang aq rela lakukan apa saja, karena aku sangat mencintai kamu" ujar ferazh

"ya aku pun mencintai kamu, sampai kapan pun aku mencintai mu" lia memeluk dengan erat

tiba tiba beberapa saat kemudian, pelukan lia melemah. dan mengendong lia, ferazh terus tersenyum, saat itu serenite hendak menolong karena mendengar cerita seorang rayan meminta tolong, d sebuah persimpangan tengah tengah kota, serenite melihat, ferazh yang menggendong, lia dimana tubuh lia sangat jelas sekali tidak beryawa, dan serenite melihat tanda di pergelangan tangan istri ferazh tanda seorang lupin. serenite terdiam melihat ferazh lewat, terlihat dari raut wajah ferazh, kesedihan yang tidak terkira. serenite mengikuti ferazh dari jauh. ferazh pun menuju rumahnya. ferazh pun menuju danau yang airnya sangat jernih, membersihkan zenajah istrinya.

"keluarlah jangan bersembunyi aq tau kau sedang mengamati ku" ujar ferazh
serenite terkejut, dan ia pun keluar dari persembunyiannya
"maaf, maafkan aku" ujar serenite
"sudahlah tidak apa apa" ujar ferazh dengan nada liris

setelah selesai membersihkan tubuh istrinya, ferazh pun membawa zenajah istrinya ke dalam rumah, dan meletakan tubuh lia di atas kasur yang lembut terbut dari kulit domba yang di jahit dengan rapi. ferazh pun mebuka kotak kayu, dan di sana ada baju jirah seorang lupin. ferazh mengenakan baju jirah tersebut ke zenajah lia. setelah mengenakan baju jirah tersebut, ferazh mengikat rambut istrinya, dan memberikan pewarna bibir, dan terlihat sangat cantik sekali, sebuah senjata lupin yang mengkilap, dengan ukiran naga, serenite terkejut bukan main, dari senjata itu adalah bahwa lia seorang lupin berpangkatkan jendral wanita, yang di anugrahi lambang giok naga hijau.

ferazh pun pergi ke belakang rumah, serenite mengikuti ferazh, d sana ada sebuah taman bunga, ya itu bunga sedap malam yang segar di basahi oleh air hujan. ferazh meletakan bunga bunga tersebut di samping jenajah istrinya.

"tunggu aku di sana, jangan lelah ya, maafin semua kebodohan ku. suatu saat nanti aku akan menyusul mu" ujar ferazh tersenyum

serenite terdiam menahan air mata, mana mungkin seorang athan bisa bersama dengan seorang human. dan bangsa athan ini sangat lembut dan penyayang, berbeda dengan cerita cerita turun temurun yang serenite lihat.

stelah selesai, ferazh menuju sebuah kamar yang tidak jauh jaraknya dari zenajah istrinya, 15 menit kemudia ferazh pun keluar, serenite melihat ferazh menggunakan baju jirah seorang Rayan, ya itu Dragon Armor, diperkuat dengan 4 batu element.
tapi ia serenite tidak melihat senjata sabit ya

bersambung.........................

 
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Terimakasih Telah Membaca Semua karangan Ku